Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Kisah Inspiratif Si Jujur yang Polos

Kisah Inspiratif Si Jujur yang Polos
Si Jujur yang Polos
Sijenius.com – Tidak sedikit cerita yang pernah kita baca mengandung amanat yang begitu banyak dan pesan yang mendalam. Dan tidak jarang hal itu memotivasi kita untuk bersikap atau menjadi pribadi yang lebih baik. Cerita atau kisah yang demikianlah yang sangat disarankan untuk kita baca dan kita pelajari sehingga dapat memotivasi siapapun yang membacanya.

Salah satunya adalah cerita yang akan sobat baca di bawah ini yang berjudul “Si Jujur yang Polos”. Ketika kita berbicara tentang kejujuran, yang timbul di fikiran kita adalah sikap selalu berkata benar tanpa menyimpan kebohongan. Sungguh menarik bukan untuk di pelajari?, tanpa berlama-lama yuk langsung saja kita simak ceritanya.

Si Jujur yang Polos


Ketika Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani masih kecil, beliau sudah banyak belajar tentang ilmu keislaman. Suatu ketika beliau meminta izin ibunya untuk pergi ke kota Baghdad guna untuk mencari ilmu. Sang ibu mengizinkannya, dan memberi uang empat puluh dinar sebagai bekal. Uang itu sengaja disimpan di saku yang dibuat khusus di bawah ketiak bajunya agar tetap aman. Ibunya berwasiat agar senantiasa berkata jujur dalam setiap keadaan, baik itu keadaan sulit maupun senang. Ia memperhatikan dengan seksama nasihat dan pesan ibunya, kemudian ia keluar dengan mengucapkan salam.

Abdul Qadir kecil pun pergi bersama dengan rombongan kafilah unta yang juga sedang melakukan perjalanan ke kota Baghdad. Di perjalanan mereka baik-baik saja, tetapi ketika mereka melintasi suatu tempat yang bernama Hamdan, tiba-tiba ada enam puluh orang perampok yang mengendarai kuda menghampiri dan merampok seluruh harta rombongan kafilah. Yang uniknya dari peristiwa ini, tidak ada satu pun dari perampok-perampok itu yang menghampiri Abdul Qadir, sampai pada akhirnya salah seorang dari perampok itu menghampiri dan bertanya kepadanya, “Wahai orang fakir, apa yang kamu bawa?”.

Abdul Qadir menjawab dengan polos, “Aku membawa uang empat puluh dinar”.

Perampok itu bertanya lagi, “Dimana kamu meletakkannya?”.

“Aku meletakkannya disaku baju yang terjahit rapat di bawah ketiakku”. Perampok itu tidak percaya dan menganggap bahwa Abdul Qadir sedang meledeknya, dan kemudian ia meninggalkannya.

Tak lama hanya berselang beberapa waktu, datang lagi seorang perampok dan bertanya dengan pertanyaan yang sama, Abdul Qadir juga menjawab dengan jawaban yang sama pula. Jawaban jujur yang ia lontarkan tidak mendapatkan respons serius, dan perampok itu pergi meninggalkan Abdul Qadir begitu saja.

Kedua perampok tersebut menceritakan apa yang mereka alami kepada pimpinan mereka, sehingga pimpinan itu merasa heran dan memerintahkan anak buahnya untuk memanggil bocah jujur itu. “Panggil Abdul Qadir kemari!”.

Sesampainya Abdul Qadir, pimpinan perampok itu lalu bertanya, “Apa yang kamu bawa”.

“Uang empat puluh dinar”, jawab Abdul Qadir.

“Dimana kamu meletakkannya?”, tanya pimpinan perampok itu lagi.

“Uang itu berada di saku yang terjahit rapat di bawah ketiakku”.

Pimpinan perampok itu kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menggeledah saku yang berada di bawah ketiak Abdul Qadir dan mereka menemukan uang sebanyak empat puluh dinar. Sifatnya yang polos dan jujur itu membuat perampok-perampok itu heran dan menggelengkan kepala mereka. Seandainya saja Abdul Qadir berbohong, para perampok itu tidak akan mengetahui apa yang ia bawa, apalagi pada waktu itu penampilan Abdul Qadir kecil sangatlah sederhana layaknya orang miskin.

“Apa yang menjadikan dirimu berkata yang sebenarnya?”, tanya pimpinan perampok itu.

“Ibuku yang memerintahkan aku untuk selalu berkata benar, aku tidak memiliki keberanian untuk durhaka terhadapnya”, jawab Abdul Qadir.

Pimpinan perampok itu mendengar jawaban dan penyataan Abdul Qadir, dia kemudian merasa sangat menyesal dan menangis tersedu-sedu.

“Nak, engkau tak berani untuk ingkar kepada janji ibumu, sedangkan aku sudah bertahun-tahun ingkar kepada janji tuhanku”. Pimpinan perampok itu kemudian bertaubat kepada Allah di hadapan Abdul Qadir.
Nah sobat, gimana ceritanya?, menarik bukan?, betapa banyak nasehat yang dapat kita ambil dari kisah diatas. Mungkin sobat pernah mendengar peribahasa “jika kita berteman dengan penjual parfum maka kita akan ikut wangi”, percayalah bahwa sikap yang kita tunjukkan itu dapat mempengaruhi orang lain.

Seperti yang dilakukan oleh Abdul Qadir dengan sikapnya yang jujur dan berbakti kepada orang tua ia dapat mempengaruhi pimpinan perampok untuk bertaubat. Jadi lakukanlah hal yang benar, selalu bersikap jujur karena dengan kebaikan akan menghasilkan kebaikan lainnya. Cukup sekian terima kasih semoga bermanfaat untuk kita semua. Good Luck👍
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor

Posting Komentar untuk "Kisah Inspiratif Si Jujur yang Polos"