Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Teori Stres Model Stimulus, Respons, dan Transaksional

Teori-Stres-Model-Stimulus-Respons-dan-Transaksional

Sijenius.com – Stres merupakan masalah umum yang sering terjadi dalam kehidupan manusia. Menurut Kupriyanov dan Zhdanov (2014), stres yang ada saat ini adalah sebuah atribut kehidupan modern. Hal ini dikarenakan stres sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak dapat terelakkan. Baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, kerja, atau dimanapun itu stres bisa dialami oleh seseorang.

Stres juga dapat menimpa siapapun termasuk anak-anak, remaja, dewasa, atau lanjut usia. Dengan kata lain, stres pasti terjadi atau dialami oleh siapapun dan dimanapun. Yang menjadi masalah adalah apabila jumlah stres itu begitu banyak di alami oleh seseorang, hal itu akan membahayakan kondisi fisik dan mentalnya. Namun, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan bertambahnya penelitian di bidang stres, berbagai teori tentang stres pun bermunculan.

Walaupun teori stres terus berkembang dari masa ke masa, tetapi secara fundamental teori stres hanya digolongkan atas tiga pendekatan, diantaranya adalah: stres model stimulus (rangsangan), stres model response (respons), dan stres model transactional (transaksional). Nah, pada penasaran gimna penjelasan dari ketiga teori tersebut?, mari simak penjelasan berikut ini. 

Stres Model Stimulus

Menurut Bartlett (1998) stres model stimulus menjadi terkenal pada tahun 1940 dan 1950. Kemudian pada tahun 1960-an para ahli psikologi menjadi tertarik untuk mengkaji konsep stres yang ditinjau dari pengalaman psikologis. Sebenarnya, perkembangan teori ini berawal dari temuan para peneliti terhadap prajurit militer yang sedang melaksanakan tugas perang. Tugas kemiliteran ini pun dianggap sebagai penyebab stres yang menyebabkan semakin memburuknya kesehatan para militer tersebut. Kondisi kesehatan yang memburuk itu disebabkan oleh adanya rangsangan atau stimulus yang datang dari luar diri mereka. Rangsangan adalah situasi peperangan yang akan dihadapi. Mereka membayangkan bahwa situasi peperangan yang akan terjadi merupakan hal yang sangat berbahaya. Hasilnya, akibat dari mereka banyak memikirkan hal tersebut kesehatan mereka pun cenderung memburuk.

Baca Juga: Kenali 6 Faktor Penyebab Bau Mulut dan Cara Mengatasinya

Menurut Lyon (2012) stres model stimulus merupakan model stres yang menjelaskan bahwa stres itu adalah variable bebas (independent) atau penyebab manusia mengalami stres. Dengan kata lain, stres adalah situasi lingkungan yang begitu menekan yang dirasakan oleh seseorang, dan individu tersebut hanya menerima langsung rangsangan stres tanpa ada proses penilaian. Penyebab-penyebab stres tersebut berperan dalam menentukan seberapa banyak stres yang mungkin akan diterima. Oleh karena itu, tekanan yang berasal dari situasi-situasi lingkungan bisa bertindak sebagai penyebab penentu pada gangguan-gangguan kesehatan apablia terjadi dalam kurun waktu yang sering dan dengan jumlah yang berbahaya.

Menurut  Staal (2004) adapun situasi-situasi yang memungkinkan menjadi pemicu terjadinya stres adalah beban kerja, kepanasan, kedinginan, suara keributan, ruangan yang berbau menyengat, cahaya yang terlau terang, lingkungan yang kotor, ventilasi yang tidak memadai, dan lain sebagainya. Bartlett (1998) juga menegaskan bahwasanya stres stimulus lebih memfokuskan pada sumber-sumber stres dari pada aspek-aspek lainnya. Sumber stres tersebut dikenal dengan istilah “stressor”. Sebenarnya, stressor hanya memberikan rangsangan dan mendorong sehingga terjadi stres pada seseorang. Stressor ini memiliki peranan sebagai pemicu stres pada individu. Menurut Thoits (1994), stressor (sumber stres) dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yaitu life event (peristiwa-peristiwa kehidupan), chronic strain (ketegangan kronis), dan daily hassles (permasalahan-permasalahan sehari-hari).

Stres Model Respons

Stres model ini dikembangkan oleh Hans Selye. Menurut Lyon (2012) Selye adalah seorang ahli yang dikenal luas karena penelitian dan teorinya tentang stres yang berkaitan dengan aspek fisik dan kesehatan. Merujuk pada pendapat Bartlett (1998), pada tahun 1946, Selye menulis sebuah karya ilmiah yang berjudul “The General Adaptation Syndrome and Deseases of Adaptation” dan menggunakan istilah stres untuk mengacu secara khusus pada tekanan yang berasal dari luar individu. Namun, empat tahun kemudian, yaitu tahun 1950, Selye mengganti definisi stres tersebut menjadi respons seseorang terhadap stimulus yang diberikan. Selye menekankan bahwa stres merupakan reaksi atau tanggapan tubuh yang secara spesifik terhadap penyebab stres yang berpengaruh kepada seseorang.

Lyon (2012) mengistilahkan reaksi tubuh terhadap sumber stres sebagai variable terikat atau hasil. Hasil stres tersebut bersumber dari dalam diri individu yang meliputi perubahan kondisi psikis, emosional, dan psikologis. Contohnya, ketika seseorang mengalami situasi yang mengkhawatirkan, tubuh secara spontan bereaksi terhadap ancaman tersebut. Ancaman yang diterima oleh tubuh tersebut termasuk sumber stres, dan respons tubuh terhadap ancaman itu merupakan stres respons. Dengan demikian, perpaduan antara sumber stres dan hasil stres mengarah pada pengertian bahwasanya stres tidak bisa dipisahkan dari reaksi tubuh terhadap sumber-sumber stres yang ada. Dengan kata lain, tubuh tidak akan memberikan respon apapun jika tidak akan rangsangan. Oleh karena itu, stres respons dapat disimpulkan sebagai reaksi tubuh secara jasmaniah terhadp sumber-sumber stres yang ada atau rangsangan yang menyerang tubuh.

Stres Model Transaksional

Menurut Jovanovic, Lazaridis, dan Stefanovic (2006) stres model transaksional berfokus pada respon emosi dan proses kognitif yang didasarkan pada interaksi manusia dengan lingkungan. Dengan kata lain, stres model ini menekankan pada peranan penilaian individu terhadap penyebab stres yang akan menentukan respon individu tersebut.

Richard Lazarus dan Susan Folkman merupakan tokoh yang terkenal dalam mengembangkan teori stres model transaksional. Pada tahun 1984, Lazarus dan Folkman menyatakan bahwa stres merupakan hubungan antara individu dengan lingkungannya yang dievaluasi oleh seseorang sebagai tuntutan atau ketidakmampuan dalam menghadapi situasi yang membahayakan atau mengancam kesehatan. Lebih lanjutnya, Lazarus dan Folkman menegaskan bahwa appraisal (penilaian) adalah factor utama yang menentukan seberapa banyak jumlah stres yang dialami oleh seseorang saat berhadapa dengan situasi berbahaya. Dengan kata lain, stres adalah hasil dari proses transaksi antara individu dengan penyebab stres yang melibatkan proses pengevaluasian. 

Selain itu, sumber stres merupakan kejadian atau situasi yang melebihi kemampuan pikiran atau tubuh saat behadapan dengan sumber stres tersebut. Ketika situasi tersebut memberikan rangsangan, maka individu akan melakukan appraisal (penilaian) dan coping (penanggulangan). Oleh karena itu, stres dapat berlanjut ke tahap yang lebih parah atau sedikit demi sedikit semakin berkurang. Hal tersebut ditentukan dari usaha seseorang saat berhadapan dengan sumber stres. 

Daftar Pustaka

  • Bartlett, D. (1998). Stress: Perspectives and processes. Philadelphia, USA: Open University Press.
  • Jovanovic, J., Lazaridis, K., & Stefanovic, V. (2006). Theoretical approaches to problem of occupational stress. Acta Facultatis Medicae Naissensis, 23(3), 163169.
  • Kupriyanov, R., & Zhdanov, R. (2014). The eustress concept: Problems and outlooks. World Journal of Medical Sciences, 11(2), 179-185. doi: 10.5829/idosi.wjms. 2014.11.2.8433.
  • Lazarus, R. S., & Folkman, S. (1984). Stress, appraisal, and coping. New York, USA: Springer Publishing Company. 
  • Lyon, B. L. (2012). Stress, coping, and health. In Rice, H. V. (Eds.) Handbook of stress, coping and health: Implications for nursing research, theory, and practice (pp.3-23). USA: Sage Publication, Inc.
  • Staal, M. A. (2004). Stress, cognition, and human performance: A literature review and conceptual framework. Nasa

Demikianlah informasi singkat mengenai teori stres model stimulus, respons, dan transaksional. Semoga informasi diatas dapat membantu sobat dalam memahami teori stres yang secara fundamental masih digunakan sampai sekarang. Cukup sekian pembahasan kali ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.

Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor