Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Tenis Meja: Pengertian, Sejarah, Peraturan, Ukuran Lapangan, dan Teknik bermain

Tenis-Meja-Pengertian-Sejarah-Peraturan-Ukuran-Lapangan-dan-Teknik-bermain

Sijenius.com – Di Indonesia sendiri permainan tenis meja atau ping pong adalah olahraga yang sangat digemari. Tidak heran banyak yang memainkan permainan ini. Bukan hanya itu saja, terdapat berbagai ajang kejuaran resmi yang diselenggarakan untuk olahraga ini, mulai dari tingkat regional, nasional, dan internasional. 

Apakah sobat salah satu dari banyaknya orang yang menggemari olahraga ini?, atau kalian baru ingin mencoba untuk mempelajari olahraga ini?. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan mempelajari apa itu permainan tenis meja dan berbagai informasi lainnya mengenai tenis meja. Langsung saja mari kita simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Tenis Meja


Tenis meja atau yang disebut juga ping pong merupakan suatu olahraga raket yang dimainkan oleh dua orang (tunggal) atau dua pasangan (ganda) yang berlawanan. Induk organisasi dari olahraga tenis meja atau yang juga dikenal dengan olahraga ping pong di tingkat internasional adalah ITTF (International Table Tennis Federation), di tingkat asia adalah ATTU (Asian Table Tennis Union), dan di tingkat nasional lembaga ini bernama PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia).

Sejarah Tenis Meja di Dunia


Inggris adalah negara dimana sejarah awal olahraga tenis ini dimulai dan berkembang. Pada tahun 1800-an berawal dari hobi sosial para penduduk pribumi mencuat. Sebagai perangkat penunjang utama untuk bermain mereka menggunakan meja makan sedangkan bola yang digunakan terbuat dari gabus yang dibentuk menyerupai bola. Pada awal munculnya, permainan ini disebut sebagai gossima, flim-flam, atau ping pong. 

Permainan ini sangatlah populer pada pertengahan abad ke-19 di Inggris yang dikenal dengan beraneka ragam nama, seperti “whiff-whaff”, “gossima”, dan “ping pong”. Permainan ini dikreasikan sebagai permainan yang waktu bermainnya dilakukan setelah makan malam dengan menggunakan pakaian lengkap bagi penggemarnya. Pada tanggal 15 januari 1926 permainan teis meja terwadahi secara resmi di dunia, yang diprakarsai oleh seseorang yang berasal dari Jerman yakni Dr. George Lehman.

Permainan tenis meja dikenal secara resmi dengan nama ping pong di negara RRC (Republik Rakyat Cina). Namun di Indonesia nama ping pong juga digunakan untuk penyebutan permainan tenis meja. Di benua Asia tenis meja masuk melalui beberapa negara seperti Korea, RRC, dan Jepang. Negara-negara tersebut merupakan negara yang menjadi pelopor dari perkembangan tenis meja di Asia. Pada tahun 1926 ITTF (International Table Tennis Federation) terbentuk yang terdiri dari 140 negara anggota. ITTF juga menjadi pendukung dalam pembiayaan atau sponsor individu maupun secara tim yang bermain pada kejuaraan dunia yang diselenggarakan 2 tahun sekali. 

Olahraga ini secara cepat menyebar ke negara-negara di benua Asia salah satunya jepang. Pada tahun 1950-1960an Jepang menjadi negara yang paling mendominasi akan tetapi pada sekitar tahun 1960-1970an negara RRC berhasil mengejar ketertinggalan. Setelah tenis meja menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade, pada tahun 1980an muncul beberapa negara kuat yang masuk jajaran papan atas yakni swedia dan korea selatan.

Sejarah Tenis Meja di Indonesia


Pada tahun 1930 permainan tenis meja mulai dikenal di Indonesia. Pada waktu itu permainan tenis meja hanya dimainkan di gedung-gedung pertemuan orang-orang Belanda sebagai permainan rekreasi saja. Permainan ini tidak sembarangan orang bisa memainkannya secara bebas, hanya beberapa orang saja dari warga lokal yang boleh ikut bermain dan berlatih, diantaranya adalah keluarga dari para pengurus dan perangkat desa (pamong). 

Sebelum pecahnya Perang Dunia ke-2 tepatnya pada tahun 1939 berdasarkan inisiatif tokoh-tokoh yang aktif didunia tenis meja mendirikan organisasi tenis meja yaitu PPSI (Persatuan Ping Pong Seluruh Indonesia). Berdasarkan hasil kongres di Surakarta pada tahun 1958 nama PPSI berubah menjadi PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia). Dan pada tahun 1960 PTMSI resmi menjadi salah satu anggota federasi tenis meja tingkat Asia yaitu TTFA (Table Tenis Federation of Asia).

Sejak berdirinya PPSI perkembangan dari kepopuleran tenis meja di Indonesia sampai sekarang bisa dibilang lumayan bagus. Hal ini dapat diketahui dengan melihat dari berdirinya banyak tim-tim tenis meja yang telah melahirkan para jawara tenis meja seperti Abdul Rodjak yang tampil di kejuaraan dunia di Savero Yugoslavia pada tahun 1973 dengan prestasi ke-11 Internasional, Diana Wuisan memperoleh medali emas Sea Games tahun 1979, 1981, dan 1983. Serta masih banyak kejuaraan lainnya yang diselenggarakan di tingkat regional maupun nasional.

Cara dan Peraturan Tenis Meja


1. Permainan Tunggal


  • Setiap bola mati menghasilkan nilai satu.
  • Servis berganti pemain setiap mencapai poin kelipatan 5.
  • Pemain yang memegang servis bebas menempatkan bola dari segala penjuru lapangan.
  • Apabila pemain mencapai score 11 maka satu set permainan akan berakhir, dan kemenangan di raih bila mencapai 3 kali kemenangan set.
  • Jika terjadi deuce, maka permainan akan berakhir jika selisih nilai adalah 2. Misalnya 15-13, dan 18-16.

2. Permainan Ganda


  • Setiap bola mati menghasilkan nilai satu.
  • Servis bergantian setiap mencapai poin kelipatan 5.
  • Pemain bergantian menerima bola dari lawan.
  • Pemain yang memegang servis hanya bisa menempatkan bola ke ruang kamar sebelah kanan lawan.
  • Apabila pemain mencapai score 11 maka satu set permainan akan berakhir, dan kemenangan di raih bila mencapai 3 kali kemenangan set.
  • Jika terjadi deuce, maka permainan akan berakhir jika selisih nilai adalah 2. Misalnya 15-13, dan 18-16.

Sarana dan Prasarana Tenis Meja


1. Meja


Tenis-Meja-Pengertian-Sejarah-Peraturan-Ukuran-Lapangan-dan-Teknik-bermain
  • Meja permukaannya harus rata, berbentuk persegi empat berukuran 2.75 meter (6 kaki) dan 1.525 meter (4 kaki), yang disangga dengan kaki meja yang kuat dan sama tinggi sehingga meja tenis berada 76 cm di permukaan tanah.
  • Meja dapat dibuat dari bahan apa saja yang memiliki ketebalan tidak kurang dari 22 cm dan tidak lebih dari 25 cm sehingga bola tenis bisa memantul kira-kira 36.5 cm di atas permukaan meja. Garis putih setebal 2 cm dibuat mengelilingi tepi permukaan meja. Garis yang di akhir meja disebut garis akhir sedangkan garis yang di sisi disebut garis tepi.
  • Untuk pertandingan ganda, permukaan permainan dibagi dua bagian dengan garis tengah putih setebal 3 mm, dibuat sejajar dengan garis tepi, garis tengan itu dibuat sedemikian rupa sehingga ruang permainan benar-benar terbagi dua sama lebar kiri dan kanan.
  • Permukaan permainan yang diperbolehkan adalah termasuk tepi atas meja, tetapi tidak termasuk dibawah tepi meja.

2. Net (Jaring)


Tenis-Meja-Pengertian-Sejarah-Peraturan-Ukuran-Lapangan-dan-Teknik-bermain
  • Permukaan permainan terbagi 2 (dua) sama besar oleh sebuah jaring vertical yang dipasang sejajar dengan garis akhir.
  • Jaring harus mempertimbangkan keberadaan sebuah kawat yang menempel dpada setiap sisi jaring tersebut agar dapat berdiri tegak setinggi 15.25 cm.
  • Jaring tersebut dengan panjang 183 cm dan berdiri setinggi 15.25 cm di atas permukaan meja. Dasar dari jaring haru menyentuh permukaan permainan dan ujung jaring menyentuh tepi meja.
  • Jaring terdiri dari badan jejaring dan penyangga besi di setiap ujungnya untuk menempelkan ke meja.

3. Bola 


Tenis-Meja-Pengertian-Sejarah-Peraturan-Ukuran-Lapangan-dan-Teknik-bermain
  • Bola berentuk bulat dengan diameter 40 mm.
  • Berat bola 2.7 gram.
  • Bola terbuat dari bahan plastik dan berwarna putih atau jingga dan matte (tidak mengkilat).

4. Bat (Pemukul)


Tenis-Meja-Pengertian-Sejarah-Peraturan-Ukuran-Lapangan-dan-Teknik-bermain
  • Bat memiliki berbagai ukuran, bentuk, dan berat.
  • Daun bat terbuat dari kayu tanpa sambunga dengan ketebalan tertentu sehingga kuat.
  • Paling tidak 85% dari ketebalan daun bat terbuat dari kayu.
  • Suatu bahan adesif dilekatkan di dau bat seperti bahan fiberglas atau kertas yang dipadatkan tetap tidak lebih tebal dari 7.5% dari ketebalan bat atau 35 mm, yang mana yang lebih tipis.
  • Satu sisi dari bat yaitu sisi yang dipakai utuk memantulkan bola-bola, dilapisi  dengan bahan karet dengan total ketebalan termasuk bahan adesif tidak lebih dari 2 mm.
  • Bahan yang menutupi daun bat boleh diperluas tapi tidak elebihi ukuran daun bat, kecuali bagian yang paling dekat dengan jangkaun jari atlet dan dianggap sebagai bagian dari gagang bat.
  • Sisi permukaan bat yang diselimuti karet yang tidak diselimuti karet dibuat beda warna. Sisi merah dan sisi hitam dan seputar bat dibuat warna putih. Penyimpangan permukaan dan keseragaman warna akan mengakibatkan kecelakaan pemakai.

Teknik Dasar Bermain Tenis Meja


1. Posisi Tubuh


Berikut ini adalah posisi tubuh yang baik saat bermain tenis meja yaitu:
  • Berdiri menghadap ke arah permainan.
  • Kedua kaki dibuat sejajar, kedua lutut agak ditekuk.
  • Posisikan badan agak membungkuk dan salah satu tangan memegang bet di depan badan.
  • Berat badan ditumpukan pada kedua ujung kaki agar leluasa untuk bergerak.
  • Tempatkan posisi badan di tengah-tengah belakang meja tenis dengan jarak secukupnya.

2. Cara Memegang Bet


Ada dua macam cara memegang bet, yaitu sebagai berikut:
  • Penholder Grip (Pegangan Tangkai Pena): pegangan ini sering disebut pegangan gaya Asia. Karena banyak sekali pemain asia yang menggunakannya dan tipe Asia cocok dengan pegangan ini, yaitu tipe penyerang (offensive) dan rata-rata postur tubuhnya relative pendek sehingga gerak kaki cenderung lincah.
  • Shakehand Grip (Pegangan Jabat Tangan): pegangan ini sering disebut pegangan gaya Eropa (Western Style) yang cenderung mempunyai tipe bertahan atau kombinasi bertahan dan menyerang karena dengan pegangan jabat tangan pemain mempunya variasi pukulan yang banyak, baik forehand maupun backhand.

3. Pukulan


Dalam permaianan tenis meja dikenal pukulan forehand dan backhand. Cara melakukannya adalah sebagai berikut.

a. Pukulan Forehand 


Menurut  Sabto Adi dan Mu’arifin (1994) pukulan forehand dilakukan ketika bola tepat mengarah pada bagian kanan tubuh. Cara melakukannya pukulan ini adalah: 
  • Berdiri tegap menghadap meja. 
  • Buka kaki selebar bahu, tarik kaki kanan kebelakang kemudian lutut sedikit ditekuk. 
  • Badan sedikit dibungkukkan, lakukan gerakan memutar tubuh kearah kanan dengan tangan kanan mengayun kearah luar.  
  • Usahakan posisi siku berdekatan dengan pinggang. 
  • Berat tubuh pindahkan pada kaki sebelah kanan. 
  • Jaga posisi bet tetap pada posisi tegak lurus ketika kaki kanan diayunkan kebelakang (backswing) Arahkan bet dan tangan kebawah dengan siku kira-kira sebesar 120 derajat.  

b. Pukulan Backhand 


Menurut Sapto Adi dan Mu’arifin (1994) pukulan backhand dilakukan jika bola berada disebelah kiri badan. Cara melakukannya adalah; 
  • Lakukan gerakan memutar bagian depan tangan menuju arah pinggang.  
  • Arahkan bet dan tangan kesamping dengan siku sekitar 90 derajat.          
  • Saat melakukan backswing, bet harus tegak lurus untuk menghadapi topspin, sedikit dibuka untuk menghadapi backspin (jaga agar siku kalian tidak berubah).

Demikianlah informasi singkat mengenai permainan tenis meja. Semoga artikel diatas dapat membantu sobat dalam memahami dan mempelajari permainan tenis meja. Cukup sekian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor