Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Bencana Tanah Longsor: Pengertian, Penyebab, Gejala, Macam, dan Pencegahannya

Bencana Tanah Longsor: Pengertian, Penyebab, Gejala, Macam, dan Pencegahannya
Ilustrasi Bencana Tanah Longsor
Sijenius.com – Alam merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia, oleh karena itu manusia tidak dapat dipisahkan dari alam. Alam memang berkaitan sangat erat dengan manusia, akan tetapi selain memiliki keuntungan alam juga dapat merugikan manusia contohnya bencana alam. Melihat fenomena ini seharusnya manusia dapat berfikir bagaimana hidup selaras dengan alam. Karena alam tidak dapat ditentang begitu pula dengan bencana alam yang terjadi.

Posisi geologis Indonesia yang terletak pada tiga lempeng bumi yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik memberikan dampak yang menguntungkan dari segi sumber daya alam seperti minyak bumi, batu bara, lautan yang luas, hutan dan sebagainya. Namun di sisi lain, karena letak dan kondisi geografisnya, sejumlah wilayah Indonesia juga menyimpan berbagai kerawanan yang berpotensi menjadi bencana alam.

Bencana alam adalah suatu peristiwa yang berdampak merugikan bagi manusia dan kehidupan yang diakibatkan oleh kejadian atau serangkaian kejadian alam. Berdasarkan data pada grafik tersebut, salah satu peristiwa bencana alam secara nasional yang paling sering terjadi adalah tanah longsor. Tanah longsor merupakan bencana tahunan yang senantiasa melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Nah, mau tau lebih jauh mengenai bencana tanah longsor?, jika demikian mari kita simak penjelasan berikut ini.

Pengertian Tanah Longsor

Tanah longsor adalah bentuk erosi dimana pengangkutan atau gerakan masa tanah terjadi pada suatu saat dalam volume yang relatif besar (Suripin, 2002). Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (2005) menjelaskan bahwa tanah longsor disebut juga dengan gerakan tanah (landslide). Tanah longsor terjadi karena adanya gangguan kestabilan pada tanah atau batuan penyusun lereng yang terjadi karena pergerakan masa batuan atau tanah dengan berbagai tipe dan jenis seperti jatuhnya bebatuan atau gumpalan besar tanah.

Penyebab Tanah Longsor

Peristiwa terjadinya tanah longsor disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor pendorong dan faktor pemicu. Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi material baik berupa tanah maupun batuan disebut pendorong, sedangkan faktor penyebab bergeraknya material baik berupa tanah maupun batuan disebut faktor pemicu. Tanah longsor tidak akan terjadi tanpa adanya faktor pendorong. Faktor penyebab terjadinya tanah longsor dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu faktor alam dan faktor manusia.

1. Faktor Alam

Faktor-faktor alam yang menyebabkan terjadinya tanah longsor antara lain sebagai berikut:
  • Bekas longsoran lama: lokasi dimana longsoran pernah terjadi sangat berpotensi untuk terjadi longsor berulang. Bekas lokasi longsoran lama umumnya terbentuk selama dan setelah terjadi pengendapan material gunung berapi pada lereng yang terjal.
  • Bidang diskontinuitas: adanya bidang kontinuitas (permukaan lerenga yang tidak berkesinambungan) akan sangat berpotensi terjadi tanah longsor. Bidang yang tidak sinambung pada lereng ini merupakan titik terlemah yang berfungsi sebagai bidang gelincir atau bidang luncur material longsoran.
  • Kemiringan lereng: kondisi lereng atau tebing yang terjal memperbesar gaya pendorong utama lereng. Semakin besar sudut kemiringan lereng, maka akan semakin besar pula gaya dorong terhadap material penyusun lereng dan juga potensi terjadinya tanah longsor.
  • Kondisi tanah: kondisi tanah yang semakin tebal dan kurang padat sangat rentan terhadap tanah longsor. Lapisan tanah disebut tebal jika mempunyai ketebalan lebih dari 2,5 meter. Jenis tanah yang kurang padat seperti lempung atau tanah liat dengan  ketebalan kurang dari 2,5 meter sangat rentan terhadap tanah longsor.
  • Struktur geologi: daerah yang sesar batuan akan mengalami penghancuran yang disebabkan oleh pergeseran blok-blok batuan pada bidang patahan. Pada daerah sesar tersebut, daya tahan atau ekokohan batuan menjadi lemah. Hal ini karena batuan pada daerah sesar lebih mudah mengalami pelapukan, erosi dan tanah longsor. 
  • Kondisi batuan: batuan endapan dari gunung berapi dan batuan sedimen yang berukuran seperti pasir dan lempung kondisinya kurang kuat. Kondisi batuan tersebut akan mudah mengalami pelapukan seperti tanah.  Tanah yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan pada lereng yang terjal umumnya sangat rentan terhadap tanah longsor.
  • Litologi: kondisi batuan yang mudah atau suka mengalami pelapukan serta besar atau kecilnya porositas tanah atau batuan terhadap air disebut litologi. Semakin mudah batuan mengalami pelapukan, maka akan semakin mengurangi kohesi dan kekuatan batuan penyusun lereng yang mengakibatkan besarnya potensi terjadinya tanah longsor.
  • Curah hujan: potensi terjadinya tanah longsor biasanya dimulai pada awal musim penghujan. Karena pada saat musim kemarau air di permukaan tanah mengalami penguapan dalam jumlah besar. Hal ini menyebabkan pori-pori tanah membesar yang diikuti dengan terbentuknya retakan dan rekahan di permukaan tanah. Ketika musim penghujan tiba, air akan masuk ke pori-pori dan bagian tanah yang retak sehingga tanah dengan cepat menyerap air yang mengakibatkan kandungan air menjadi jenuh dalam waktu singkat.
  • Kandungan air pori tanah: tingginya kandungan air pori tanah dan tingginya permukaan air tanah (water table) pada lereng juga menjadi faktor pendorong terjadinya tanah longsor. Semakin tinggi kandungan air pori tanah dan semakin tinggi permukaan air tanah akan semakin rentan terhadap longsor.
  • Pengikisan tanah atau erosi: aktivitas aliran sungai akan menyebabkan pengikisan tanah di daerah tebing dan lembah. Selain itu, akibat dari pengundulan hutan di sekitar bantaran sungai dan bagian-bagian sungai yang berkelok-kelok akan menyebabkan tebing menjadi terjal. Sedangkan erosi dapat disebabkan oleh aliran air hujan. Kedua hal ini akan memperbesar terjadinya bahaya tanah longsor.
  • Getaran: getaran yang disebabkan oleh gempa bmi atau penggunaan alat-alat berat dan bahan peledak akan mempengaruhi kondisi kestabilan lereng. Getaran pada permukaan bumi yang cukup dapat menyebabkan terjadinya tanah longsor.
  • Susutnya permukaan air: musim kemarau yang panjang dan diikuti panas yang terik menyebabkan susutnya permukaan air dengan cepat di danau atau bendungan. Hal ini menyebabkan gaya penahan materal di lereng menjadi hilang. Kondisi demikian menyebabkan terbentuknya retakan dan penurunan tanah yang akan memperbesar potensi terjadinya tanah longsor.

2. Faktor Non-alam

Selain faktor alam, aktivitas manusia juga mempengaruhi terjadinya tanah longsor. Faktor manusia yang berdampak memperbesar terjadinya tanah longsor adalah aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan industri, kegiatan pertanian, dan kegiatan konstruksi. Aktivitas-aktivitas manusia yang berdampak memperbesar terjadinya tanah longsor antara lain sebagai berikut:
  • Pengundulan hutan: aktivitas manusia seperti penebangan dan pembakaran hutan akan menyebabkan tanah kehilangan stabilitasnya. Kegiatan pengundulan hutan dapat menyebabkan struktur tanah menjadi rapuh dan rawan terjadi tanah longsor.
  • Pemotongan tebing: kegiatan pemotongan tebing dan penambangan batu di daerah lereng akan memperbesar potensi terjadinya tanah longsor. Pemotongan tebing secara illegal akan mengakibatkan lereng kehilangan gaya penahan terhadap tanah dan batuan penyusun lereng sehingga hal ini akan menyebabkan terjadinya tanah longsor.
  • Kegiatan industri: kegiatan industri seperti pertambangan yang menggunakan bahan peledak, getaran mesin, dentuman alat berat, dan getaran lalu lintas kendaraan akan memperbesar potensi terjadinya tanah longsor.  
  • Tata kelola lahan pertanian: sistem pertanian yang tidak memperhatikan sistem irigasi dan drainase yang baik akan memperbesar risiko terjadinya tanah longsor. Apalagi jika pengelolaan tanah lahan pertanian tersebut kurang memperhatikan tanaman vegetasi yang mempunyai sistem perakaran yang dalam dan kuat. Kondisi inilah yang menyebabakan tanah longsor sering terjadi di daerah lahan persawahan, perladangan, dan lereng yang tergenang air.
  • Sistem drainase: sistem drainase pada lereng atau bukit yang kurang baik akan memperbesar risiko terjadinya tanah longsor. Drainase yang kurang baik akan menyebabkan kandungan air didalam tanah semakin bertambah sehingga kestabilan material penyusun lereng terganggu.
  • Pemompa air tanah: kegiatan pertanian, industri, atau pertambangan dengan cara memompa air kedalam tanah akan menyebabkan susutnya permukaan air danau atau waduk. Kondisi demikian akan menyebabkan terbentuknya retakan dan penurunan permukaan air tanah yang akan memperbesar kemungkinan terjadinya tanah longsor.
  • Daerah pembuangan sampah: pembuangan sampah di daerah lembah atau di sekitar lereng akan menyebabkan terjadinya tanah longsor. Hal tersebut terjadi karena timbunan sampah sangat tidak stabil terlebih pada musim penghujan.
  • Kegiatan perikanan: kegiatan budi daya ikan dengan cara membuat kolam di atas lereng akan memperbesar terjadinya tanah longsor. Hal ini karena rembesan air akan memperbesar kandungan air tanah sehingga beban pada lereng akan semakin bertambah.
  • Penimbunan material: penimbunan material untuk perluasan pemukiman penduduk dapat memicu terjadinya tanah longsor. Struktur material timbunan biasanya tidak padat dan labil. Dengan kondisi yang demikian, jika hujan akan menyebabkan penurunan permukaan tanah dan terbentuk retakan yang berpotensi terjadinya tanah longsor.
  • Beban tambahan: pembangunan gedung-gedung, jalan raya dan penimbunan material di sekitar lereng akan menambah beban pada lereng. Keadaan demikian akan memperbesar gaya pendorong terjadinya tanah longsor. 

Gejala Tanah Longsor

Dalam peristiwa tanah longsor, terjadi pergerakan material penyusun lereng yang berupa batuan, tanah, bahan rombakan, atau campuran beberapa jenis material tersebut kebawah atau keluar lereng karena adanya pengaruh gravitasi bumi. Semakin curam sudut kemiringan lereng, maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya tanah longsor. Lahan atau lereng yang sudut kemiringannya melampaui 20 derajat, umumnya berpotensi terjadi tanah longsor. Menurut Supriyono (2014) ada beberapa tanda-tanda tanah longsor antara lain:
  1. Setelah hujan turun, di lereng timbul retakan-retakan yang arahnya sejajar dengan tebing.
  2. Di daerah sekitar lereng, air sungai dan air sumur tiba-tiba permukaanya naik dan berwarna keruh.
  3. Ketika hujan, air di permukaan tanah biasanya tergenang, namun tiba-tiba mengering menjelang terjadinya tanah longsor.
  4. Secara tiba-tiba muncul rembesan air lumpur pada lereng.
  5. Di sekitar lereng, pohon-pohon, tiang-tiang, dan rumah-rumah mulai tampak miring.
  6. Terjadinya runtuhan bagian-bagian dari massa tanah atau batuan dalam jumlah besar.

Macam-Macam Tanah Longsor

Berdasarkan sifat dan jenisnya, macam tanah longsor terbagi menjadi:

1. Tanah Longsor Translasi

Tanah longsor translasi merupakan jenis tanah longsor yang ditandai dengan bergeraknya massa tanah atau batuan pada lereng sebagai bidang gelincir atau bidang luncur yang berbentuk rata atau menggelombang landai. Tanah longsor jenis ni adalah tanah longsor yang paling banyak terjadi di Indonesia.

2. Tanah Longsor Rotasi

Tanah longsor rotasi merupakan jenis tanah longsor yang ditandai dengan bergeraknya massa tanah atau batuan pada lereng sebagai bidang gelincir yang berbentuk cekung atau lengkung. Jenis longsoran ini juga banyak terjadi di Indonesia.

3. Tanah longsor Pergerakan Blok

Tanah longsor pergerakan blok atau disebut juga longsoran translasi blok batu merupakan jenis tanah longsor yang ditandai dengan perpindahan massa batuan yang bergerak pada lereng sebagai bidang gelincir atau bidang luncur yang berbentuk rata.

4. Tanah Longsor Runtuhan Batu

Tanah longsor runtuhan batu merupakan tanah longsor yang ditandai dengan sejumlah besar batuan atau material lain bergerak ke bawah dengan cara jatuh bebas dari atas lereng. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal terutama di daerah pantai.

5. Tanah Longsor Aliran Bahan Rombakan

Tanah longsor aliran bahan rombakan merupakan jenis tanah longsor yang ditandai dengan pergerakan massa tanah karena terdorong oleh aliran air. Kecepatan aliran material ini tergantung dari besarnya sudut kemiringan lereng, volume, dan tekanan air, serta jenis materialnya.

Semakin curam sudut kemiringan lereng, semakin besar volume dan tekanan air, serta semakin gembur jenis material tanahnya, maka akan semakin besar dampak tanah longsor yang terjadi. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan hingga ribuan meter jauhnya. Seperti di daerah aliran sungai di sekitar gunung api dan longsoran jenis ini paling banyak memakan korban jiwa manusia.

6. Tanah Longsor Rayapan

Tanah longsor rayapan merupakan jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya berupa butiran kasar dan halus. Setelah waktu cukup lama longsor jenis ini dapat menyebabkan pohon-pohon, tiang-tiang telepon, atau rumah miring ke bawah.

7. Material Longsoran Salju

Material longsoran salju merupakan peristiwa bergeraknya massa salju dari puncak gunung menuruni lereng. Longsoran salju biasanya terjadi di wilayah pegunungan yang dipicu oleh aktivitas manusia atau terjadi secara alami. Longsoran ini biasanya bercampur dengan air, udara, batu, es, pohon, dan bahan lainnya yang ada di lereng gunung.

Pencegahan Bencana Tanah Longsor

  1. Tidak menebang pohon atau membakar hutan dilereng perbukitan atau pegunungan.
  2. Tidak membuka lahan persawahan atau membuat kolam ikan dilereng perbukitan atau pegunungan.
  3. Tidak membangun rumah dan fasilitas fisik lainnya di bawah tebing atau ditepi sungai yang rawan erosi.
  4. Segara menutup retakan tanah dan di padatkan agar air tidak masuk kedalam tanah melalui retakan. Jangan melakukan penggalian di bawah lereng terjal.

Kesiapsiagaan Sesudah Bencana Tanah Longsor

Setelah bencana tanah longsor terjadi, tindakan yang seharusnya dilakukan adalah melakukan perbaikan dan pemulihan kehidupan dalam masyarakat. Tindakan-tindakan yang sebaiknya dilakukan sesudah terjadi bencana tanah longsor antara lain memberi bantuan darurat, rehabilitasi, rekonstruksi, dan pemulihan.

1. Pemberian Bantuan Darurat

Pemberian bantuan darurat kepada korban merupakan tindakan utama yang harus segera dilakukan setelah terjadi bencana tanah longsor. Setelah program tanggap darurat dilalui, kita perlu memberikan bantuan darurat untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, obat-obatan, dan air bersih bagi korban bencana tanah longsor.

2. Rehabilitasi 

Rehabilitasi merupakan program jangka pendek yang harus segera dilakukan pasca tanah longsor, rehabilitasi ini meliputi kegiatan membersihkan dan memperbaiki rumah, fasilitas umum, dan menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat. Dalam rehabilitasi ini juga mencakup pemulihan kesehatan fisik, kondisi psikologi, dan keamanan masyarakat. Setelah tindakan rehabilitasi ini dilakukan diharapkan roda pemerintahan dan pelayanan masyarakat seperti rumah sakit, sekolah, dan peribadatan dapat berjalan kembali.

3. Rekonstruksi 

Rekonstruksi merupakan program jangka menengah atau jangka panjang. Rekonstruksi ini meliputi program perbaikan sarana fisik, kondisi sosial, dan perekonomian masyarakat agar berjalan seperti semula atau lebih baik.

4. Pemulihan 

Pemulihan merupakan proses mengembalikan kondisi dan fungsi-fungsi dalam masyarakat yang terkena bencana. Program pemilihan ini dilakukan dengan cara memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula. Program pemulihan ini misalnya perbaikan prasarana dan pelayanan dasar seperti jalan, listrik, telekomunikasi, air bersih, pasar, puskesmas, dan lain-lain.

Selain pemberian bantuan darurat dan perbaikan sarana dan prasarana fisik, program yang tidak kalah pentingnya adalah memulihkan kondisi psikologi masyarakat terutama anak-anak yang terkena musibah. Langkah utama yang harus dilakukan adalah mengusahakan agar keluarga dapat berkumpul kembali, tenangkan anak-anak, biarkan anak-anak bercerita tentang pengalaman dan perasaan mereka selama peristiwa tanah longsor yang mereka alami, serta libatkan mereka dalam pasca bencana.

Daftar Pustaka

  • Supriyono, P. (2014). Pengurangan Resiko Bencana Tanah Longsor. Yogyakarta : ANDI
Demikianlah informasi singkat mengenai bencana tanah longsor. Semoga artikel diatas dapat membantu sobat dalam memahami dan mempelajari apa itu bencana tanah longsor. Cukup sekian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor

Posting Komentar untuk "Bencana Tanah Longsor: Pengertian, Penyebab, Gejala, Macam, dan Pencegahannya"