Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

BAB Pembahasan Makalah Teknologi Benih Lanjutan Tentang Pengujian Kesehatan Benih

BAB Pembahasan Makalah Teknologi Benih Lanjutan Tentang Pengujian Kesehatan Benih
Makalah Pengujian Kesehatan Benih
Sijenius.com – Sebagai seorang mahasiswa, kita pastinya tidak akan luput dari yang namanya tugas makalah ataupun laporan. Hal itu memang sudah menjadi sebuah kewajiban yang harus kita kerjakan. Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas makalah teknologi benih lanjutan (TBL) tentang pengujian kesehatan benih. 

Point-point yang akan di bahas ialah BAB III pembahasan yang terdiri dari pengujian benih, golongan patogen, identifikasi benih terinfeksi, metode pengujian benih dasar, dan diakhiri oleh BAB IV penutup yang terdiri dari kesimpulan. Sedangkan untuk BAB I dan BAB II mengenai pendahuluan dan tinjauan pustaka, sobat dapat medownloadnya melalui link di bawah ini.

BAB III

PEMBAHASAN


3.1. Pengujian Benih


Uji kesehatan benih merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk memeriksa ada atau tidaknya mikroorganisme patogenik yang terbawa oleh benih dan menentukan status kesehatan, contohnya benih yang akan menunjukkan status kesehatan lot benih dimana benih itu berasal. Benih yang sehat adalah benih yang terbebas dari patogen yang terbawa benih, dengan ciri-ciri benih tidak ditumbuhi oleh jamur, tidak terdapat miselium jamur diatas permukaan benih. Semua patogen tanaman dapat terbawa oleh benih karena benih dapat terinfeksi patogen baik ketika masih di tanaman induk, terkontaminasi pada waktu diproses maupun di dalam rantai pemasaran. Patogen yang menginfeksi benih dapat menyebabkan benih menjadi:
  1. Berubah secara fisik dan kimiawi
  2. Berkecambah secara abnormal
  3. Tidak dapat berkecambah
  4. Kecambahnya tidak mampu muncul ke permukaan lahan
  5. Hasil pengujian viabilitas kecambahnya jadi terpengaruh.
Pengujian kesehatan benih dapat dilakukan atas permintaan dari pengirim benih atau pelanggan. Pengujian hanya dilakukan untuk mendeteksi mikroorganisme tertentu atau penyakit fisiologis tertentu. Estimasi jumlah benih yang terserang dilaksanakan sebaik mungkin sesuai dengan ketelitian yang dimungkinkan oleh metode yang digunakan. Apabila contoh yang dikirim telah mendapat perlakuan (seed treatment) dengan pestisida atau perawatan lain, maka pengirim harus menyebutkannya, karena hal ini mungkin akan mempengaruhi determinasi dan evaluasi pengujian kesehatan benih. Pengujian ini harus dilakukan dengan menggunakan metode dan alat yang sudah dipastikan kelayakannya untuk digunakan. Metode yang digunakan tergantung pada jenis patogen atau kondisi yang akan diamati, jenis benih, dan tujuan pengujian. Pengujian kesehatan benih mempunyai arti penting karena:
  1. Inokulum (bahan yang mengandung atau bagian dari bibit penyakit yang dapat ditularkan berupa miselium, spora, sel-sel bakteri, virus dll) yang terbawa oleh benih dapat berkembang menjadi penyakit yang menyerang pertanaman di lapangan sehingga mengurangi nilai komersialnya.
  2. Benih yang didatangkan ke daerah baru kemungkinan mengintroduksikan penyakit karena daerah tersebut. Untuk itu tindakan karantina dan sertifikasi (kesehatan benih) sangat penting untuk pencegahan penyebaran penyakit dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pulau ke pulau lain dan dari benua ke benua lain.
  3. Pengujian kesehatan benih mungkin dapat memberikan keterangan tentang penyebab rendahnya presentase daya berkecambah atau buruknya pertumbuhan benih di lapangan, sehingga akan menjadi pelengkap uji daya berkecambah.
  4. Hasil dari pengujian kesehatan benih yang diperoleh dapat memberikan cara perlakuan (treatment) dalam suatu lot benih untuk mengendalikan patogen terbawa benih atau mengurangi penyebaran penyakit.

3.2. Golongan Patogen


Patogen yang terbawa oleh benih dapat diklasifikasikan kedalam beberapa golongan berikut ini:
  1. Cendawan: merupakan patogen yang paling banyak terbawa dan menginfeksi benih. Cendawan ialah patogen yang memiliki kasus terbanyak dalam penginfeksian terhadap benih.
  2. Bakteri: bakteri yang menginfeksi benih biasanya sangat tahan terhadap kekeringan. Bakteri ini terdapat pada bagian hilium atau pada bercak-bercak yang di permukaan kulit benih. Bakteri yang ditularkan melalui benih tergolong dalam genis Cory-nebacterium, Pseudomonas, dan Xanthomonas.
  3. Virus: virus yang menginfeksi benih biasaya ditularkan oleh tanaman induk. Dengan demikian virus tersebut terdapat dalam jaringan benih. Meskipun demikian sering kali pula terdapat virus yang terdapat pada permukaan benih.
  4. Nematoda: nematoda tercampur ke dalam benih bersama-sama dengan kotoran yang ikut terbawa pada waktu benih tersebut menjalani prosesing.

3.3. Identifikasi Benih Terinfeksi


Patogen yang menginfeksi benih dapat diidentifikasi sebagai berikut:
  1. Seed bornediseases, merupakan inokulum yang terdapat pada benih dan ditularkan oleh tanaman induk.
  2. Seed transmitted diseases, merupakan inokulum yang terdapat pada benih dan ditularkan ke tanaman lain di lahan.
  3. Seed contamination diseases, merupakan inokulum yang terdapat pada benih yang berasal bukan dari tanaman induk.

3.4. Metode Pengujian Benih Dasar


Terdapat beberapa metode dasar pada pengujian kesehatan benih yaitu:

3.4.1. Metode Tanpa Inkubasi


Metode tanpa inkubasi terbagi menjadi 3 metode, yakni:
  • Metode pengamatan langsung terhadap benih tanpa bantuan peralatan atau dengan menggunakan bantuan kaca pembesar (lup) dan dapat juga diamati dibawah mikroskop stereo.
  • Pengujian dengan perendaman benih.
  • Pengamatan terhadap suspense dari pencucian benih. Pengamatan ini dilakukan dengan menggunakan mikroskop.

3.4.2. Metode Setelah Inkubasi


Hasil pengujian ini tidak memberikan indikasi viabilitas patogen. Jarak antar tiap-tiap benih dibuat sedemikian rupa hingga tidak saling bersinggungan satu sama lain. Kemudian Petridis tersebut disimpan pada suatu ruangan atau lemari khusus selama masa inkubasi. Pada umumnya masa inkubasi adalah 7-8 hari pada suhu (20 ± 2)°C, kecuali pada benih tanaman tropika diperlukan suhu (28 ± 2)°C. selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara benih yang telah ditabur (khususnya pada metode blotter) benih diinkubasi pada kondisi ruang pada jam pertama, kemudian benih diinkubasi pada suhu -20°C pada 24 jam berikutnya. 

Setelah itu benih diinkubasi suhu ruang sampai pengamatan. Tempat inkubasi sebaiknya dilengkapi dengan lampu NUV untuk merangsang sporulasi cendawan dan secara bergantian diatur terang gelap masing-masing 12 jam. Setelah masa inkubasi selesai, benih diperiksa dengan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 50-60 kali. Benih yang sangat mudah terkena kontaminasi dengan saprofit perlu diberikan perlakuan dengan larutan chlorine (1-2)% sebelum diuji. Pengamatan terhadap benih atau kecambah benih setelah waktu inkubasi dapat dilakukan dengan metode:
  • Metode saring/hisap: metode kertas ini dapat digunakan untuk memeriksa kesehatan benih. Patogen yang dapat diketahui dengan metode ini adalah Ascochyta, Ari negara alternaria, Botrytis, Colletotrichum, Drecslera, Fusarium, dan Phoma. Dengan melihat gejala penyakit dan miselium yang terbentuk kadang-kadang dapat digunakan untuk membedakan jenis tanaman dari cendawan tersebut. Selain hal itu, metode ini juga mampu mengidentifikasi cendawan patogen dengan cepat dan tepat, karena setiap jenis tanaman menunjukkan ciri-ciri masing-masing seperti aturan, bentuk, spesifik dari konodiospora dan sebagainya.
  • Metode agar: dibandingkan metode blotter, metode ini memberikan kondisi yang lebih memadai untuk tumbuhnya sporulasi atau gejala adanya serangan penyakit. Sejumlah benih diletakkan pada media agar di dalam petridish. Media agar yang umum digunakan adalah malt ekstract dan potato dextract. Untuk mencegah kontaminasi dengan jasad saprofit maka  benih didesinfektan dahulu sebelum di tempatkan pada media agar. Masa inkubasi adalah 5-7 hari pada suhu  (20 ± 2)°C. tempat inkubasi juga dilengkapi dengan lampu NUV dan diatur gelap dan terang masing-masing 12 jam. Pengamatan persentase (%) serangan dilakukan secara mikroskopis,yaitu dengan melihat bentuk dan warna dari koloni cendawan yang tumbuh dari benih tersebut. Apabila kurang jelas dapat dilakukan pengamatan secara mikroskopis.
  • Pengujian serologi: yaitu uji berdasarkan reaksi biokimia, misalnya Elisa test. Pengujian ini biasanya digunakan di negara-negara yang sudah maju karena peralatan dan bahan yang relative mahal, serta diperlukan analisis yang sudah terlatih. Kelebihan pengujian ini cukup sensitif untuk mendeteksi virus dan hasilnya dapat diperoleh dalam waktu singkat.
  • Pengujian pada media pasir: pengujian ini dapat memberikan informasi yang lebih mendekati pertumbuhan benih di lapangan, hanya saja dibutuhkan waktu pengujian yang agak lama (lebih 2 minggu). Media yang digunakan yaitu tanah, pasir, atau batu bata yang sudah disterilisasi. Sejak tahun 1917 metode ini mulai diperkenalkan dan dikembangkan oleh Hitner di Jerman untuk melihat gejala serangan Fusarium Nivale pada gandum.

BAB IV

KESIMPULAN


Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan pada makalah pengujian benih ini ialah:
  1. Uji kesehatan benih merupakan suatu tindakan untuk memeriksa ada atau tidaknya mikroorganisme petogenik yang terbawa oleh benih dan menentukan status kesehatan.
  2. Golongan patogen yang terbawa oleh benih adalah Cendawan, Bakteri, Virus, dan Nematoda.
  3. Identifikasi benih dapat dikerjakan dengan Seed bornediseases, Seed transmitted diseases, dan Seed contamination diseases.
  4. Ada dua metode yang dapat dilakukan untuk pengujian penih yakni metode tanpa inkubasi dan metode setelah inkubasi.

DAFTAR PUSTAKA


  • Amodu, U. S., & Aku, B. O. (2015). Seed-Borne Diseases and Nigeria Agriculture. Agriculture and Veterinary Sciences. 2(3B): 243 – 252.
  • Hamim, I., Mohanto, D. C., Sarker, M. A., & Ali, M. A. (2014). Effect of Seed Borne Pathogens on Germination of Some Vegetable Seeds. Phytopathology and Pest Management. 1(1): 34 – 51.
  • Harahap, A. S., Yuliani, T. S., & Widodo, W. (2015). Deteksi dan Identifikasi Cendawan Terbawa Benih Brassicaceae. Fitopatologi Indonesia. 11(3): 97 – 103.
  • Nurdin, M. (2009).  Inventarisasi Beberapa Mikroorganisme Terbawa benih Padi yang berasal dari Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika 3(2): 47- 50.
  • Pitojo, S. (2005). Benih Tomat. Yogyakarta: Kanisius.
  • Samuel., Purnamaningsih, S. L., & Kendarini, N. 2010. Pengaruh Kadar Air Terhadap Penurunan Mutu Fisiologis Benih Kedelai (Glycine max (L) Merill) Varietas Gepak Kuning Selama Dalam Penyimpanan. Agronomi, 1 (1): 1-13.
  • Situmeang, M., Purwantoro, A., & Sulandari, S. (2014). Pengaruh Pemanasan Terhadap Perkecambahan dan Kesehatan Benih Kedelai (Glycine max (L.) Merrill). Vegetalika. 3(3): 27 – 37.
Demikianlah pembahasan mengenai makalah teknologi benih lanjutan (TBL) tentang pengujian kesehatan benih. Semoga pembahasan diatas dapat membantu sobat dalam mempelajari dan menyelesaikan tugas sobat. Cukup sekian semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor

Posting Komentar untuk "BAB Pembahasan Makalah Teknologi Benih Lanjutan Tentang Pengujian Kesehatan Benih"