Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

8 Teori Proses Terbentuknya Alam Semesta Menurut Para Ahli

Sijenius.com - Rasa ingin tahu selalu muncul ketika kita berhadapan dengan alam semesta yang di dalamnya mengandung begitu banyak misteri. Rasa ingin tahu jugalah yang memunculkan berbagai penelitian yang dilakukan oleh para peneliti. Berdasarkan hal itu, telah lama para ahli astronomi berusaha untuk merumuskan berbagai macam teori yang dapat menjelaskan tentang kejadian alam semesta. Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang teori terbentuknya alam semesta. Langsung saja kita simak penjelasan berikut ini. 

8 Teori Proses Terbentuknya Alam Semesta Menurut Para Ahli
Teori Alam Semesta


Teori Terbentuknya Alam Semesta
 


1. Teori Big Bang 

 
Teori big bang merupakan teori mutakhir tentang penciptaan alam semesta, yang dikemukakan oleh Kosmolog Abbe Lemaitre pada tahun 1920. Kosmolog Abbe Lemaitre mengatakan bahwasanya alam semesta bermula dari gumpalan super atom raksasa yang isinya tidak bisa kita bayangkan tetapi diperkirakan seperti bola api raksasa yang suhunya antara 10 milyar sampai 1 trilyun derajat celcius. Gumpalan super atom tersebut meledak sekitar 25 milyar tahun yang lalu. Hasil dari dentuman dahsyat tersebut menyebar menjadi debu dan awan hidrogen. Setelah berusia sekitar ratusan juta tahun, debu dan awan hidrogen tersebut membentuk bintang-bintang dalam ukuran yang berbeda-beda. Seiring dengan terbentuknya bintang-bintang, diantara bintang-bintang tersebut berpusat membentuk kelompoknya masing-masing yang disebut galaksi. 

2. Teori Keadaan Tetap (Steady State Theory) 


Teori ini dikemukakan oleh H. Bondi, T. Gold, dan F. Hoyle dari Universitas Cambridge pada tahun 1948. Teori ini menyatakan bahwasanya alam semesta tidak ada awalnya dan tidak akan berakhir. Dalam teori ini tidak ada asumsi bola api kosmik yang besar dan pernah meledak. Alam semesta ini akan datang silih berganti berbentuk atom-atom hidrogen dalam ruang angkasa yang akan membentuk galaksi baru dan menggantikan galaksi lama.
 

3. Teori Osilasi 

 
Teori ini memiliki keyakinan yang sama dengan teori keadaan tetap yang mana alam semesta tidak awal dan tidak akan berakhir. Akan tetapi teori ini mengakui adanya dentuman besar dan suatu saat gravitasi akan menyedot kembali efek ekspansi ini sehingga mengakibatkan alam semesta menjadi collaps (mengempis) yang pada akhirnya akan mengumpal kembali dalam kepadatan dan temperatur yang tinggi yang akan mengakibatkan terjadinya dentuman besar kembali. 

4. Teori Nebula 


Teori ini dikemukakan oleh William Herschel pada tahun (1788-1822) yang mana ia mengamati adanya nebula yang awalnya dianggap sebagai kumpulan gas yang gagal menjadi bintang. Pada tahun 1791, ia melihat bintang tunggal yang dikelilingi oleh hallo yang terang. Asumsi inilah yang kemudian berkembang dan menjadi kesimpulan sementara bahwasanya bintang itu terbentuk dari nebula dan hallo yang merupakan sisi dari nebula. 

5. Teori Planetesimal 


Teori ini dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlin pada tahun 1848-1928) seorang ahli geologi dan Forest R. Moulton pada tahun (1872-1952) yang merupakan seorang ahili astronomi. Teori planetesimal menyatakan matahari telah ada sebagai salah satu dari bintang-bintang yang banyak. Pada suatu masa, ada sebuah bintang yang berpapasan pada jarak yang tidak jauh. Akibatnya, terjadilah peristiwa pasang naik pada permukaan matahari. Sebagian dari masa matahari tertarik ke arah bintang lewat. Material yang tertarik kembali ke matahari dan sebagian lainnya terlepas dan menjadi planet-planet. 

6. Teori Pasang Surut 


Teori ini dikemukakan oleh sir james jeans pada tahun (1877-1946) dan Harol Jeffreys pada tahun (1891). Teori ini menyatakan bahwasanya peristiwa pasang surut yang digambarkan oleh Jeans dan Jeffreys adalah seperti cerutu, yang berarti ketika bintang lewat mendekati matahari, pada waktu itu masa matahari tertarik dengan bentuk menjulur keluar seperti cerutu. Setelah berada cukup jauh, cerutu tersebut mulai menetes dan tetesannya membentuk planet-planet. 

7. Teori Awan Debu (The Dust-Cloud Theory) 


Teori ini dikemukakan oleh Carl Von Weizsaeker yaitu seorang ahli astronomi Jerman. Teori ini menyatakan bahwasanya tata surya awalnya terbentuk dari gumpalan awan gas dan debu. Awan gas dan debu mengalami proses pemampatan membentuk bola dan mulai berpilin. Lama-kelamaan gumpalan gas tersebut memipih menyerupai bentuk cakram yaitu bulat dan pipih di bagian tengahnya tebal sedangkan di bagian tepannya sangat tipis. Pada bagian tengahnya memipih lebih lambat dibandingkan bagian tepiannya. Partikel pada bagian tengah saling menekan sehingga menimbulkan panas dan menyala yang kemudian menjadi matahari. Sedangkan pada bagian luar berpusing sangat cepat sehingga banyak yang terlempar menjadi gumpalan gas dan debu padat. Bagian yang kecil-kecil itu kemudian menjadi planet-planet. 

8. Teori Bintang Kembar 


Menurut teori bintang kembar, pada awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan atau disebut bintang kembar, salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat adanya pengaruh grafitasi dari bintang kedua, maka kepingan-kepingan tersebut bergerak mengelilingi bintang tersebut dan berubah menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi matahari. 

Uraian diatas merupakan ringkasan singkat mengenai berbagai teori yang melandasi terbentuknya alam semesta menurut para ahli. Semoga informasi diatas dapat membantu sobat dalam memahami dan mengetahui teori tentang alam semesta. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita semua.
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor