Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Karakteristik Teknik dan Hambatan dalam Komunikasi Terapeutik

Sijenius.com – Perawat merupakan tenaga medis yang paling sering berhadapan langsung dengan pasien. Oleh karena itu, seorang perawat dituntut untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi salah satunya yaitu komunikasi terapeutik. Karena pada saat berkomunikasi dengan pasien, apapun yang diperlihatkan oleh perawat akan menjadi faktor penunjang kesembuhan pasien tersebut, baik itu tingkah lakunya, tutur katanya, bahkan raut wajahnya, semua itu menjadi komponen penting ketika perawat tersebut berhadapan dengan seorang pasien. Nah, apa saja karakteristik, teknik, dan hambatan dalam komunikasi terapeutik?. Penasarankan?, mari simak penjelasan berikut ini.

Karakteristik Teknik dan Hambatan dalam Komunikasi Terapeutik
Komunikasi Terapeutik

Karakteristik Komunikasi Terapeutik 


Komunikasi terapeutik terdiri dari 3 karakteristik, berikut ini penjelasan dari ketiga karakteristik tersebut:

1. Keikhlasan (Genuineness) 


Menurut Arwani (2002), Keikhlasan merupakan nilai, sikap, dan perasaan, yang harus dimiliki perawat terhadap klien. Apa yang perawat pikirkan dan rasakan tentang individu dan dengan siapa dia berinteraksi selalu dikomunikasikan, baik secara verbal maupun nonverbal. Sedangkan menurut Dani (2006), keikhlasan adalah ketulusan hati atau dengan hati yang bersih dan jujur.secara harfiah bisa diartikan sebagai melakukan pekerjaan tanpa ada motif tertentu. 
 
Baca Juga: Pengertian Caring Dalam Keperawatan Menurut Para Ahli

2. Empati (Empathy) 


Menurut Arwani (2002), Empati merupakan perasaan “pemahaman” dan “penerimaan” perawat terhadap perasaan yang dialami pasien dan kemampuan merasakan “dunia pribadi pasien”. Sedangkan Menurut Dani (2006), empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok.
 

3. Kehangatan (Warmth) 


Menurut Arwani (2002), kehangatan merupakan sikap yang akan membantu perawat dalam mendorong pasien untuk mengekspresikan ide-ide dan menuangkannya dalam bentuk perbuatan tanpa rasa takut dimaki atau dikonfrontasi. Sedangkan menurut Mundakir (2010), kehangatan merupakan hubungan yang saling membantu dilakukan untuk memberikan kesempatan klien mengeluarkan pera)saan dan nilai-nilai secara bebas. 

Teknik Komunikasi Terapeutik 


Berikut ini adalah teknik-teknik yang digunakan dalam komunikasi terapeutik:
  • Mendengarkan dengan aktif. Perawat berusaha untuk mengerti klien dengan cara mendengarkan apa yang disampaikan klien.
  • Menanyakan pertanyaan yang berkaitan. Tujuan perawat bertanya adalah untuk mendapatkan informasi yag spesifik mengenai apa yang disampaikan klien.
  • Mengklarifikasi. Diperlukan jika klien menjawab pertanyaan dan perawat tidak memahami jawaban yang jelas atau ingin mendapatkan informasi.
  • Memfokuskan. Metode ini bertujuan untuk membatasi bahan pembicaraan sehingga percakapan menjadi lebih spesifik dan dimengerti.
  • Diam yang Positif. Teknik diam (silent) digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab pertanyaan perawat.
  • Identifikasi Tema. Dalam hal ini perawat harus tanggap terhadap cerita yang disampaikan oleh klien dan harus mampu menangkap inti atau tema dari seluruh pembicaraan untuk meningkatkan pemahaman dan menggali masalah penting.
  • Memberikan Informasi. Teknik ini bertujuan untuk membantu perawat dalam mengajarkan kesehatan atau pendidikan ada klien tentang aspek-aspek yang relevan dengan perawatan diri dan penyembuhan klien.
  • Menunjukkan Penerimaan. Mendukung dan menerima iformasi dengan tingkah laku yang menunjukkan ketertarikan dan tidak menilai.
  • Eksplorasi. Teknik ini bertujuan untuk mencari au menggali lebih dalam masalah yang dialami klien.
  • Refleksi. Keadaan dimana perawat mencoba mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan, dan isi dari seluruh pembicaraan kepada klien untuk memvalidasi pemahaman perawat terhadap apa yang diucapkan klien dan menekankan empati, minat, dan penghargaan terhadap klien.
  • Menawarkan Diri. Mengungkapkan kehadiran minat atau keinginna untuk untuk memahami klien tanpa membuat tuntutan atau mengajukan syarat yang harus klien patuhi untuk menerima perhatian perawat.
  • Memberikan Penghargaan. Hal ini berguna untuk meningkatkan harga diri dan menguatkan perilaku klien.
  • Mengulang. Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri. Bertujuan untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengiuti pembicaraan/memperhatikan klien dan mengharapkan komunikasi berlanjut klien.
  • Berbagi Persepsi. Meminta pendapat klien tentang hal apa yang dirasakan atau pikirkan oleh perawat. Teknik ini digunakan ketika perawat merasakan atau melihat ada perbedaan antara respon verbal dan respon non-verbal klien.
  • Humor. Lawakan yang menyenangkan, diungkapkan dengan bermain-main guna meningkatkan kesadaran, menyegarkan suasana, dan menurunkan agresi.
  • Meringkas. Pengulangan ide utama yang sudah dikomunikasikan secara singkat. Metode ini bermanfaat untuk membantu perawat dalam memahami topik yang telah dibahas sebelum meneruskan pada pembicaraan berikutnya.
  • Mengubah Cara Pandang. Teknik ini digunakan untuk memberian cara pandang sehingga klien tidak melihat sesuatu atau masalah dari aspek negatifnya saja.
  • Menyatakan Hasil Observasi. Dalam hal ini perawat mencoba untuk menguraikan kesan yang ditimbulkan oleh isyarat non-verbal klien.
  • Mengorientasikan Realitas. Membantu klien membedakan mana kenyataan dan mana yang bukan kenyataan.
  • Memberi Saran. Teknik komunikasi yang baik bila digunakan pada waktu yang tepat dan cara yang konstriktif, sehingga pasien bisa memilih.
  • Sentuhan. Kasih sayang, perhatian, dan dukungan emosional disampaikan melalui sentuhan. Sentuhan merupakan bagian yang penting dalam hubungan perawat-klien, namun harus mempertimbangkan norma Sosial.
  • Menganjurkan untuk Meneruskan Pembicaraan. Teknik ini memberikan kesepatan kepada klien untuk mengarahkan hampir seluruh pembicaraan.
  • Menempatkan Kejadian Secara Berurutan. Mengurutkan kejadian secara teratur akan membantu perawat dan klien untuk melihat suatu perspektif.

Hambatan Komunikasi Terapeutik 


Menurut Stuart (2016), ada empat hambatan dalam komunikasi terapeutik, berikut ini penjelasan keempat hambatan tersebut:
  • Resistens, yaitu rasa keengganan dari klien untuk berbicara atau mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri. Resisten biasanya disebabkan oleh ketidakbersedianya klien untuk berubah ketika ia mengetahui kebutuhannya untuk berubah.
  • Transferens, yaitu respon yang tidak disadari dimana klien mengalami perasaan dan sikap terhadap perawat yang berasal dari hubungannya dengan tokoh penting dalam kehidupannya terdahulu. Transferen dicirikan oleh intensitas respon klien yang tidak sesuai.
  • Kountertransferens, yaitu penghentian terapeutik akibat dari respon emosional perawat terhadap kualitas yang dimiliki klien.
  • Pelanggaran Batas, yaitu perawat keluar dari batasan hubungan terapeutik dan membina hubungan sosial, ekonomi, dan personal dengan klien.

Daftar Pustaka 


  • Stuart & Sundeen. (1998). Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3 alih bahasa Achir Yani. S. Jakarta: EGC.
  • Arwani. (2002). Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
  • Suryani. 2005. Komunikasi Terapeutik :Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.
  • Stuart, W. G. (2016). Prinsip dan Praktik Keperawatan Jiwa Stuart. Jakarta: Elsevier.
Baca Juga: 
Demikianlah informasi singkat mengenai artikel diatas, semoga artikel ini dapat membantu sobat dalam memahami apa saja karakteristik, teknik, dan hambatan dalam komunikasi terapeutik. Semoga bemanfaat dan menambah wawasan kita semua.
Muhammad Furqan
Muhammad Furqan Mahasiswa Keperawatan | Website Designer | Vidio Editor